Review Buku The Long Walk | Jalan Terus Sampai Mati


Halo!

Buku The Long Walk ini kubeli karena tertarik dengan blurb alias tampilan belakang bukunya yang menjelaskan bahwa The Long Walk ini bercerita mengenai kontes jalan jarak jauh yang mematikan. Wih seru nih, kayak Maze Runner atau The Hunger Games dong?- pikirku waktu itu. Buku fantasi-thriller emang genre favoritku, dan kurasa buku ini cocok buat bacaan akhir pekan. Harganya 102k, tapi karena aku punya gramedia card, buku ini didiskon 10%.

Blurb bukunya seperti ini:

Setiap tahun, pada tanggal satu Mei, seratus remaja terpilih bertemu untuk berkompetisi dalam acara "The Long Walk". Di antara para peserta tahun ini ada Ray Garraty yang berusia 16 tahun. Dia sudah tahu aturan-aturannya: peserta yang berjalan di bawah batas kecepatan, tersandung, duduk... akan diberi peringatan. Setelah tiga kali peringatan... peserta tersebut akan mendapat tiket. Awas, jangan sampai mendapat tiket. Sebab hanya akan ada satu pemenang di akhir. Satu pemenang yang berhasil bertahan... 
 
Yang aku tidak tahu, Richard Bachman alias Stephen King ini adalah penulis novel horror, bahkan sudah banyak karyanya yang diangkat ke layar lebar. Salah satunya 'IT' dan 'The Shining'.


*glek* untung The Long Walk ini ga se horror dua judul tadi.  

Pas cari refrensi latar belakang buku ini, aku kaget karena ternyata buku ini terbitnya tahun 1979 (diterjemahkan dan diterbitkan ke Bahasa Indonesia baru tahun ini soalnya), dan bahkan merupakan buku pertama yang Stephen King tulis pada tahun 1966 saat dia masih berstatus mahasiswa. Gilanya lagi, saat diterbitkan pada tahun 1979, Stephen King memakai nama samaran Richard Bachman (yang sempat membuatku bingung karena kupikir Stephen King ini menulis dengan sudut pandang orang pertama/ketiga bernama Richard Bachman dalam novel ini). Nama samaran itu ia pakai untuk membuktikan bahwa kesuksesan karya-karyanya di bidang literasi bukanlah kecelakaan.
  Oke, lanjut ke review bukunya.

Buku ini bergenre dystopian thriller alias gambaran masa depan yang buruk dan menegangkan. Seperti yang kujelaskan sebelumnya, buku ini bercerita tentang kontes jalan jauh, tidak terbatas jaraknya, yang penting kamu adalah orang terakhir yang hidup. Yep, artinya 99 orang lainnya harus mati dulu baru keluar pemenangnya. Dalam kontes ini, tidak boleh berhenti atau menurunkan kecepatan (di bawah 6,4 km/jam), meskipun kamu ingin makan, minum, buang air kecil dan tidur. Jika kamu duduk, kamu akan mendapat peringatan. 3 peringatan dan kamu akan mendapat tiket ke surga alias tembak mati alias headshot dari para tentara yang mengiring para peserta.

Sudah terasa mengerikannya?

Cover lama The Long Walk
Jujur, pada bab pertama aku masih belum paham dengan 'konsekuensi' jalan jauh ini. Kontes ini masih tampak normal, dan para remaja digambarkan bersemangat dan optimis saat digaris start. Baru di halaman 46, korban pertama jatuh. Sumpah perutku langsung mual. Daripada nonton, membaca membuat visualisasinya lebih nyata (mungkin karena sudah biasa baca dan berimajinasi dari kecil, atau mungkin juga karena penulisnya keren).

Untung pesertanya semua laki-laki, jadi aku tidak perlu membayangkan diriku sendiri berada diposisi peserta, haha. 

Saat membaca, keinginan untuk melompat ke bagian akhir nyaris tak tertahankan, haha. Aku ingin tokoh utamanya selamat dan jadi juara. Tapi penulisnya benar-benar tahu caranya mempertahankan alur yang panjang menjadi menarik. Bayangkan aja, dari awal sampai akhir hanya membahas tentang jalan, jalan, dan jalan. Tidak pernah sekalipun ganti sudut pandang untuk membahas 'behind' acara tersebut. Benar-benar hanya ada gairah, ketakutan dan kematian. Hadiahnya pun tak dibahas sama sekali, pembaca hanya tahu dari perbincangan para peserta.

Para pejalan kaki hanya diberikan ransum makan tiap jam 9 pagi (itu juga kalau masih hidup), tapi bebas meminta air minum. Makanya mungkin mereka tahan untuk mengobrol berjam-jam (sekaligus untuk mempertahankan alur membosankan tadi). Halaman 85, 5 orang mati. Sekitar 9 jam setelah berjalan. Buku ini benar-benar menegangkan lama (alias kamu sudah ketakutan karena kematian seseorang di 5 halaman, tapi kemudian saat kamu sudah berhenti terkejut, ada lagi yang membuatmu takut). Ditengah perjalanan membacanya, aku berpikir-pikir adanya pemberontakan seperti di ending Hunger Game dan Catching Fire, dimana ada suatu hal yang bisa membuat mereka mengabaikan peraturan.Tapi tidak ada hal seperti itu. Buku ini pure hanya ketegangan.

Duh jarak jalan kaki jauhnya lebih dari jarak ultra marathon, sadis!

Aku yang baca aja capek, apalagi yang jalan, haha.

Buku ini kuberi rating 3. Karena ya, hanya jalan aja. Aku berharap sesuatu yang lebih daripada hanya jalan - > capek - > mati (meskipun ada sih yang melalui jalan - > capek - > sakit - > sekarat - > mati, atau langsung jalan - > mati konyol). Bahkan alur menuju endingnya kurasa kurang memuaskan. Bukan karena aku protes dengan hasilnya, tapi karena di bagian ending itulah si penulis baru mengungkapkan sebuah rahasia, yang seharusnya bisa membuat alurnya jadi seru. Tapi hanya disia-siakan.

Sebenarnya, selain jalan dan mati, buku ini sarat makna. Tentang makna kehidupan, dan memaknai kehidupan. Tentang orang-orang di hidup ini, beberapa memang amat menyebalkan dan bisa membuatmu mati, tapi kamu punya pilihan untuk tidak mengacuhkannya dan berjalan kedepan. Tentang keluarga, tentang teman. Dan terutama mengenai perjuangan. 500 lebih kilometer? Yang benar saja! Mobil aja harus isi bensin berapa kali! Tapi ada, sesuatu yang memaksamu bangkit kembali dan terus berjalan.

Bagi yang ingin membacanya, siapkan mental! Aku jadi merasa harus menjauhi kegiatan jalan/berlari dalam waktu dekat. Seram juga membayangkan berjalan diikuti panser dan ditodong pistol

Satu lagi, karena isi pejalan kaki ini semuanya cowok dan semua cukup umur, tau lah sendiri kan ya sisipan obrolannya seperti apa, haha. Kasar, jorok. Maafkan saja lah ya, toh semuanya sedang frustasi dan dibawah tekanan. Keluar semua aslinya, haha.

P.S : yang mau baca review utuh dengan spoiler, silahkan lihat tweet yang aku pin di twitterku ya! @firafirdaus1

19 comments

  1. artikel yang sangat bermanfaat gan, ijin share :)

    ReplyDelete
  2. Kalo baca buku emang kadang imajinasi kita lebih ekstrim ketimbang nonton film ya kan Fira....dari review kamu nya aja udah kebayang ceritanya sadis.

    ReplyDelete
  3. kayaknya seru juga baca ini pas malem ya.. soalnya aku kalo lagi ga bisa tidur suka baca buku. Lumayan horor kayaknya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi bisa bikin ngantuk juga sih mbak, ini jalannya kayak ga habis-habis gitu, takjub juga liat stamina mereka jalan 500km haha

      Delete
  4. jalan jarak jauh yang mematikan, penasaran juga sama bagian ini fira

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, makanya kemarin jadi beli bukunya

      Delete
  5. Berapa lama fira selesai baca buku ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Satu hari mbak, dari sore sampai malam. Dari rumah yang awalnya rame banyak sepupu sampai sepupu pada pulang semua fira masih sibuk baca novel ini hehe

      Delete
  6. Wihh... Kayaknya ngeri ya kak bukhnya..

    ReplyDelete
  7. sesekali baca yang genre kayak gini boleh juga tuh, jadi memperkaya bacaan juga.

    ReplyDelete
  8. Sepertinya cocok buat teman nunggu berbuka..jd bisa sambil baca2.

    ReplyDelete
  9. Serem Fir. Aku gak akan berani baca buku tipikal begini malam-malam dan sendirian. Paling baca pas lagi di tempat rame & kondisinya terang benderang pula. *cemen detected* xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Fira juga pas habis baca endingnya jadi merinding & kabur ke kamar nenek

      Delete
  10. Alamak. Nggak ngebayangin kalo jadi salah satu peserta. Mungkin akan jadi tim : jalan > mati konyol xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semuanya emang datang buat mati konyol kak :D

      Yah beberapa sih memang udah persiapan, tapi akhirnya mati juga karena keadaan ga mendukung. Paling heroik ada yang sudah menikah, dan dia udah latihan gitu kan jalan jauh. Eh pas hari ketiga kena flu&demam akhirnya mati..

      Delete
  11. Ka, aku ga ngerti endingnya nih hehe gimana sih ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Endingnya gantung dek, diceritanya sih dia pas tinggal berdua, udah mau finish temannya mati gitu. Tapi kayaknya dia juga kelelahan jadi sama si Stephen King dibikin sekarat/hampir mati gitu narasinya.

      Apalagi kan sebelumnya dikasih tau pemenang tahun lalu meskipun dia jadi kaya mendadak, orangnya mati juga seminggu setelah menang karena ada perdarahan diotak..

      Dan well, sebenarnya mustahil juga bisa sehat walafiat setelah jalan selama itu ga pake istirahat. Emang dariawal udah death march, datang buat mati

      Delete

Bagaimana pendapat anda?

Penulis. Powered by Blogger.