Review Buku Ready Player One | Petualangan Mencari Easter Egg Halliday


Halo!

Kali ini aku mau review Ready Player One, novel yang baru-baru ini adaptasi filmnya keluar di bioskop. Filmnya benar-benar keren dan gambaran futuristiknya benar-benar bagus, juga didukung dengan kekuatan plot cerita dan ratusan penampilan 'cameo' dari berbagai film dan game sejak 80'an, membuatku pengen banget baca bukunya. Sekeren apa sih novelnya sampai filmnya bisa sehebat itu? Apakah sihir Stephen Spielberg yang membuat filmnya jadi lebih bagus dari novelnya?

Baca dulu disini ya gengs Review Film RPO  lebih bagus lagi kalau kalian nonton dulu filmnya, baru balik lagi ke review novel ini hehe. 

Aku sempat mengintip rating dan kritik mengenai film ini di rotten tomatoes dan IMDB. Ratingnya ga begitu tinggi tapi juga ga begitu rendah. Sedanglah diangka 6-7. Tapi komentarnya beragam. Make sense sih, soalnya cerita di RPO memang ga semua orang bisa suka. 

"Great movie, but different from the book." Kata salah satu reviewer di IMDB.



Nah lo, aku merasa ketinggalan banget karena film sebagus ini novelnya bisa sampai lolos dari jangkauanku. 

Cover novel Ready Player One di negara lain. (image source : click here)


Tapi ternyata emang buku ini baru dikeluarkan Gramedia Pustaka Utama bulan Maret 2018, memang buat antisipasi fans-fans film RPO yang penasaran ini. Padahal, cetakan pertama novelnya di luar negeri itu tahun 2011. So old ya

Harganya sekitar 120ribuan. Untungnya pas aku beli ini, ada diskon Hari Karini, jadi dibawah 100ribu harganya. Lumayan, hehe. Lucky me, aku bacanya pas weekend, jadi bisa langsung pacu baca sampai malam, haha.

Blurb novel ini: 

Pada tahun 2045, realitas adalah tempat yang buruk. Wade Watts hanya merasa sepenuhnya hidup saat masuk ke dunia utopia virtual yang dikenal sebagai OASIS.

Wade membaktikan hidupnya untuk mempelajari teka-teki tersembunyi dalam dunia virtual tersebut. Teka-teki yang berasal dari James Halliday, sang pencipta OASIS, tempat Halliday menyembunyikan harta peninggalannya yang paling berharga dalam obsesinya terhadap budaya pop dan permainan video tahun 1980-an.

Saat Wade menemukan petunjuk pertama, seluruh dunia mengejarnya,karena banyak orang yang rela membunuh demi menemukan rahasia tempat Halliday menyembunyikan hartanya. Dan sejak itu, dimulailah perburuan yang sesungguhnya.

Bagi Wade, ini bukan sekedar perburuan, tapi bagaimana dia bisa menyelamatkan dunia virtual tempatnya berlindung, dan pada saat yang sama berusaha menyelamatkan orang-orang yang dicintainya di dunia nyata. Satu-satunya cara bagi Wade untuk bisa melakukannya adalah dengan memenangi perburuan itu.

Saat baca novel ini, bagian prolog aja udah bikin kaget. Gimana nggak, bagian prolog novel ini menceritakan tentang video wasiat Halliday, si penemu serta pemilik saham terbesar perusahaan yang mengembangkan teknologi OASIS (dunia virtual reality yang jadi latar ceritanya). Sejauh ini masih belum mengagetkan buatku yang sudah nonton filmnya. Kemudian Halliday mengungumkan sayembaranya, 'easter egg Halliday' dimana semua karakter di OASIS bisa ikut berpartisipasi mencari tiga kunci, tembaga, giok dan kristal. Siapa yang menemukan ketiga kuncinya, akan mewarisi semua harta kekayaan Halliday.

3 kunci untuk mendapatkan easter egg Halliday

Nah, bagian yang membuatku terkejut adalah bagaimana permainan Adventure, yang pada film merupakan tantangan terakhir, langsung diperkenalkan di awal cerita. Aku shock dan bertanya-tanya, apakah tantangan lainnya juga berbeda dengan film?

DAN TERNYATA, YA.

Hal yang sama hanyalah latar cerita dan keberadaan karakter-karakternya. Benar ada Wade, Artemis, Sho, Daito dan Aech, Big five yang berhasil menemukan kunci tembaga pertama kali sebelum diikuti perusahaan jahat bernama IOI. Selain itu, wah, benar-benar mind-blown. Apalagi ketika setting karakter yang digunakan jauh berbeda. Di film, Parzival tampak begitu keren, memiliki banyak uang untuk membeli mobil (race tantangan pertama di film kan,butuh mobil). Eh, ternyata di novel si Parzival ini cuma murid biasa yang ga punya banyak kredit untuk teleportasi ke tempat lainnya di OASIS, cuma bisa di planet sekolahan (di masa depan, tidak perlu bersekolah di sekolah nyata, tinggal ke 'sekolah' lewat virtual reality). Benar-benar dari titik nol.  

Permainan arcade tempo dulu

Di novel ini, daripada melihat Artemis yang girl crush banget, Sho dan Daito yang lucu dan Aech yang pintar benerin barang seperti di film, kita malah harus melihat Wade, sebagai tokoh utama, berjuang sendiri dari awal sampai akhir. Dengan sedikit sekali bantuan dari 4 orang tadi, dan ternyata ada bantuan dari Ogden Morrow (co-founder OASIS, di film hanya ditampilkan di bagian akhir).

Tidak ada yang seperti ini, Artemis amat pemalu di novel
Meskipun kecewa dengan kematian Daito (yang di film digambarkan amat keren karena menjadi gundam pada final battle), sebenarnya aku menikmati alur cerita yang digambarkan di novel. Benar-benar terasa genre distopianya. Semua hal di bumi sudah tidak menyenangkan lagi, energi habis, kelaparan dimana-mana, perang nuklir.. sehingga keindahan yang nyata adalah saat melarikan diri ke OASIS. Tantangan untuk mendapatkan kunci dibuat benar-benar nostalgia ke zaman 80'an, bukannya ke zaman milenial, dimana ada karakter overwatch atau kingkong yang nyelip. Aku seperti membaca novel yang berbeda dengan film RPO, meskipun banyak istilah dan refrensi yang tidak kumengerti karena kurangnya pengetahuanku terhadap film-film dan game lama. 

Genrenya 4/5 deh serius. Novelnya not bad, petualangannya malah lebih mendebarkan daripada di film, tapi tetap saja aku lebih mencintai versi filmnya. Semuanya jadi lebih ringan untuk dikonsumsi penonton zaman sekarang, tidak perlu searching dulu cari permainan Joust itu seperti apa, Heavy barrel, vigilante itu game seperti apa. Aku setuju dengan reviewer lainnya, ini sihirnya Spielberg. Mulai dari kerennya visualisasi CG, pendalaman karakternya, plot cerita yang lebih menarik dan latar yang lebih mudah dipahami, benar-benar sebuah film utuh yang sangat worth-it buat ditonton. 

Dan hei, yang pengen sesuatu yang 'lebih nerd' dari filmnya, sangat kurekomendasikan buat baca buku ini. Ga nyesel kok, karena baik novel dan film keduanya punya kekuatan masing-masing dalam menampilkan cerita Wade dan kawan-kawan.

Buat yang suka genre distopian, baca review ini juga yuk :
Review Buku The Long Walk | Jalan Terus Sampai Mati

2 comments

  1. ini kakaknya emang suka mereview buku yah, sampe keren gini artikelnya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Suka baca aja, ngereview buku mah sebisanya aja. Emang bukunya dari awal udah keren kok

      Delete

Bagaimana pendapat anda?

Penulis. Powered by Blogger.